Tangan yang Dicium Rosulullah

Kisah Rasulullah SAW yang baru pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah,beliau disambut banyak orang.
Begitu beliau datang, ada seorang penjual air yang mendekati Nabi SAW hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Nabi SAW tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tanganpenjual air itu untuk dicium.

Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi SAW merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi SAW bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?” Orang itu menjawab, “Yaa Rasulullah, kerjaan saya ini membelah
batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya
saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Apa yang dilakukan Nabi yang agung itu? Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia, jauh lebih  mulia daripada siapapun, tetapi orang yang paling mulia itu begitu melihat tangan yang kasar karena mencari nafkah yang halal, menggenggam tangan itu, dan menciumnya. Saat Rasulullah SAW hendak mencium tangan itu,beliau berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada” ‘inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Tangan yang tidak pernah disentuh oleh api neraka itu bukan tangan yang lembut, yang berkali-kali membuka ayat-ayat al-Qur’an, bukan tangan yang sekali tanda tangan, ratusan juta rupiah cair,tetapi adalah tangan yang melepuh karena bekerja keras mencari nafkah yang halal. “Kulit yang dicintai oleh Nabi SAW, yaitu kulit yang menghitam karena dibakar terik matahari, bukan kulitnya ibu-ibu yang memutih karena tidak pernah kena sengatan matahari. Tangan yang dicintai dan dicium oleh Rasulullah SAW adalah tangan yang menjadi keras (kapalan), kulit melepuh karena mencari nafkah.

Hal yang sama terjadi terhadap puteri Rasulullah SAW, yang sangat disayangi lebih daripada segala-galanya, Fathimah Azzahra. Ketika Rasulullah tengah duduk bersama orang banyak, Fathimah datang, lalu Nabi SAW berdiri menyambut puterinya dan mengambil tangan Fathimah serta menciumnya. “Bayangkan, orang-orang dizaman Nabi SAW itu berebut untuk mencium tangan Nabi SAW, tetapi saat itu, Nabi SAW malah mencium tangan orang lain. Dan siapakah tangan yang dicium Nabi SAW itu? Di antaranya adalah tangan puterinya, Sayyidah Fathimah Azzahra salamallahi ‘alaiha.

Mengapa Nabi SAW mencium tangan Sayyidah Fathimah? Ada sebuah riwayat, ketika hendak berangkat ke masjid, Salman al-Farisi mendengar tangisan anak-anak kecil, yaitu Hasan dan Husain dari rumah Fathimah. Saat
singgah di rumah Fathimah, ia melihat sang ibu sedang sibuk menggiling
gandum, dan tidak ada yang membantunya untuk mengurus anak-anaknya sehingga Salman menawarkan diri, “biarlah saya  yang menggiling
gandum itu, dan ibunda yang mengurus anak-anak itu.” Ketika menggiling
gandum, Salman melihat tangan Sayyidah Fathimah kasar, melepuh karena setiap hari bekerja keras tanpa seorang pun yang membantunya di
rumah.

Fathimah Azzahra as sudah terbiasa bekerja keras tiap hari sambil mengurus
anak-anaknya, bahkan pernah bekerja merajut (memintal) benang di rumah orang Yahudi, yang upahnya adalah sebungkus gandum yang
dibuat roti untuk berbuka puasa. Suatu saat, ketika roti telah siap
dihidangkan untuk berbuka, tiba-tiba ada yang berteriak-teriak dari luar rumah, “Ya Ahlulbait Nabi SAW, wahai keluarga Nabi, saya ini orang miskin
yang datang dari kalangan kaum muslimin, saya sudah beberapa hari tidak
makan, bantulah saya, wahai keluarga nabi !” Seketika itu juga, seluruh makanan yang ada di atas meja diserahkan kepada orang miskin itu,
sehingga keluarga Nabi SAW tidak berbuka puasa kecuali hanya minum air saja.

Peristiwa tersebut terjadi tiga hari berturut-turut. Selama tiga hari itu,
keluarga Nabi SAW tidak makan apa-apa karena makanan mereka semua diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka memberikan makanan
yang mereka perlukan kepada orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan
tawanan. Keluarga Nabi SAW berkata,

“Kami memberi makan kepada kalian dengan tidak mengharapkan balasan dan terima kasih, kami memberikan makanan semata-mata karena Allah SWT.” (Al Insan 76:9 )

Pada kesempatan ini, Kang Jalal juga menukil riwayat. Ketika nabi SAW keluar dari masjid, seorang perempuan tua mengajaknya mengobrol lama sekali. Meskipun demikian, beliau mendengarkannya baik-baik sehingga
para sahabat merasa kasihan karena Nabi SAW tidak dapat beranjak dari tempat duduknya karena mendengarkan perempuan tua itu. Demikianlah, menurut Kang Jalal, para sahabat ketika hendak menemui Nabi SAW, harus mencari di tengah-tengah orang miskin dan rakyat kecil. “Jangan
cari Rasulullah SAW di tempat-tempat orang kaya,
tidak akan ketemu di situ, “selorohnya seraya mengutip hadits, “Kudzuni fi
dhu’afaikum,”

‘Carilah aku di tengah-tengah orang kecil (miskin) di antara kamu’.

“Sekarang pun kalau kita mau mencari Rasulullah SAW, carilah di
tengah-tengah orang miskin, karena tidak ada tempat yang paling dicintai Rasulullah SAW, selain tempat-tempat orang miskin, rakyat kecil, sampai
beliau berdoa di tengah-tengah orang banyak, yang sampai sekarang tidak saya amalkan, “Allahuma ‘ahyini miskinan…,” ‘Ya Allah hidupkanlah aku di tengah-tengah orang miskin, wafatkanlah aku di tengah-tengah orang miskin,dan bangkitkanlah aku di hari kiamat bersama orang-orang miskin juga,” ungkapnya.

Ketika Aisyah, isteri Nabi SAW, meminta wasiat kepadanya, “Ya Rasulullah,
aku ingin dekat dengan Allah, bagaimana caranya? Nabi SAW bersabda, “dekatilah orang-orang miskin, nanti kamu akan dekat dengan Allah, dekatilah orang-orang kecil.” Jadi Nabi Muhammad SAW sangat senang berada di tengah-tengah orang miskin. Dan Rasulullah SAW berkata lagi kepada Aisyah, “kepadaku diperlihatkan semua penghuni surga,
ternyata yang aku saksikan kebanyakan penghuni surga itu adalah orang-orang miskin, dan kebanyakan penghuni neraka itu orang-orang kaya.”

Ketika orang-orang miskin bertanya, “Orang kaya itu enak, bisa bersedekah
dan kami ini apa yang mau kami
sedekahkan.” Rasulullah SAW menjawab, “bacalah oleh kalian ‘Subhanallah
walhamdulillah walaa ilaahaillallah wallahu akbar’, itu sama nilainya dengan sedekah orang kaya.” Orang miskin itu bertanya lagi, “tetapi ya Rasulullah, orang kaya itu bisa baca zikir seperti itu.”Lalu Rasulullah bersabda, “ada di
antara dosa-dosa yang tidak bisa ditebus oleh apapun kecuali dengan sulitnya mencari nafkah yang halal. Ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan ratusan pergi haji, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan baca
zikir itu, dan ada dosa yang tidak bisa ditebus dengan setinggi gunung emas
sekali pun. Dan dosa itu hanyabisa ditebus dengan kesengsaraan dalam mencari nafkah yang halal, sulitnyamencari uang, itulah yang menjadi
penghapus terhadap dosa-dosa.” Rasulullah SAW melanjutkan, “orang miskin
lebih cepat masuk surganya ketimbang orang-orang kaya.” “Hal ini tidak berarti kita hanya mempertahankan kemiskinan, tetapi bagaimana
kalau kita mau kaya apa dipaksakan juga, tentunya tindakan, yang memang
susah kaya, yaa…gak bisa kaya.

Nabi SAW sangat mencintai dan sangat senang berada di tengah-tengah orang miskin dan beliau mau mendatangi dan berkumpul dengan orang-orang yang menderita atau kesusahan. “Ketika membantu orang miskin, jangan berpikir bahwa kita membantu mereka, tidak demikian. Pada
hakikatnya,merekalah yang beruntung

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • DINARRAIHAN

    DinarRaihan melayani Jual Beli Dinar Emas more futher add me in your YM : fbr0976@yahoo.com
  • Arsip

  • Almanak

    Maret 2009
    M S S R K J S
        Apr »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Artikel Terbaru