JIKA PASANGAN KITA TAK SEMPURNA

Suatu ketika, seorang laki-laki mengeluh kepada Umar Ibnul Khaththab bahwa cintanya kepada istrinya sudah memudar. Hampir-hampir tak ada cinta lagi. Karena itu, ia bermaksud menceraikannya. Umar kemudian mengingatkan,”Sungguh jelek niatmu. Apakah semua rumah tangga hanya dapat terbina dengan cinta? Dimana takwamu dan janjimu kepada Allah? Dimana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankan kamu sebagai suami istri telah saling bercampur (sehingga tampaklah rahasiamu) dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang amat berat?”

Sepenggal cerita diatas mengingatkan pada buku Human Development dari Diane E.Papalia & Sally Wendkos Olds. Cinta yang didasari semata-mata oleh ketertarikan dan gairah asmara maka akan cepat pudar. Pernikahan yang digerakan oleh keterarikan fisik dan rangsangan seksual, akan segera menemukan kehampaannya. Setelah bulan madu berakhir, mereka akan memasuki bulan-bulan empedu. Cintanya yang dulu kita buru dengan menggebu-gebu, sekarang tinggal kenangan yang menusuk kalbu. Meski masih hidup dalam satu rumah, kehadirannya serasa jauh dimata. Bila diawal pernikahan, berpisah satu jam sudah terasa menggelisahkan hari ini berkumpul seharian terasa membosankan, sehingga tak ada yang kita harap selain kepergiannya,”Kok, dirumah terus, kenapa, sih ?”

Sebaliknya, kadang kala pernikahan tidak diawali dengan cinta tetapi oleh niat yang lurus dan komitmen yang kokoh berjalan dengan langgeng sampai akhir masa. Dari penelitian yang dilakukan ternyata cinta yang paling baik bukan cinta romantis, yakni cinta yang dipenuhi oleh kemesraan dan kasih sayang. Mereka senantiasa ingin berdekatan secara fisik dan selalu ada ikatan emosional yang kuat, tetapi tak ada komitmen yang mereka pegang bersama. Bila waktu telah berlalu dan gairah sudah tak menggebu-gebu, tak ada lagi yang dapat melanggengkan hubungan. Sebab ketika kemesraan dan kasih sayang sudah pudar, komitmen kepada nilai yang kita yakini merupakan perekat paling kuat. Dalam hal ini komitmen yang paling kuat sebagai perekat adalah komitmen terhadap agama. Benarlah kata Al Hasan RA,Kawinkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika laki-laki itu mencintainya, ia pasti memuliakannya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tak akan berbuat zalim kepadanya.

Komitmen yang kokoh juga dapat menjadi penyulut api cinta. Ia tidak berbicara tentang rupa tapi ia berbicara tentang kesetiaan pada nilai yang dipegangnya itu. Masalah rupa bukanlah yang utama karna geraknya adalah karena komitmen yang kuat dan ikhlas terhadap agama. Cinta akan mudah tumbuh pada orang yang memiliki komitmen sama.

Soal komitmen ada baiknya kita membuka catatan Daniel Goleman. Orang-orang yang cermelang umumnya hampir selalu dalam kondisi flow. Ini merupakan jenis percakapan yang mepengaruhi kemampuan seseorang.

Kata Goleman,”Orang dalam keadaan flow sering menjadikan sesuatu yang sulit tampak mudah, suatu tampilan luar yang mencerminkan kejadian dalam otak mereka. Flow menghadirkan sebuah paradoks saraf: kita dapat terlibat dalam kerja yang tergolong sulit, tetapi otak bekerja dengan tingkat aktivitas minimal atau dengan pengerahan energy yang tidak seberapa. Penyebabnya adalah bahwa ketika kita sedang bosan dan apatis atau sedang diliputi kecemasan, aktivitas otak kita menjadi kacau, aktivasi otak berada pada tingkat tinggi, tetapi tidak terfokus dengan sel-sel otak  aktif, tapi tidak menentu.

Dalam keadaan flow , kemampuan otak berfungsi secara lebih efisien dan stress lebih terkendali. Meskipun ada masalah-masalah yang mudah menimbulkan stress, tetapi tidak mengalami kondisi seperti itu. Orang-orang yang hampir senantiasa mengalami kondisi flow, lebih mampu menghindari kebosanan.

Bila rumah tangga terhindar dari kebosanan yang berkelanjutan, kebahagiaan akan bersemi dan cinta akan bermekaran diantara mereka. Nah salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kondisi flow adalah komitmen. Komitmen inilah yang disebut oleh Goleman sebagai satu diantara tiga kekuatan motivasi yang banyak ditemukan pada orang-orang cemerlang, orang-orang yang hampir senantiasa dalam kondisi flow. Kenapa disebut kekuatan motivasi ? Meskipun komitmen merupakan soal  hati, tetapi komitmen yang lurus dan kokoh memang melahirkan motivasi yang dasyat, termasuk motivasi untuk melakukan perubahan. Jika motivasi itu ada dalam rumah tangga, ia melahirkan kekuatan untuk menerima kekurangan. Dada kita terasa lapang ketika mendapati ketidaksempurnaan pasangan, untuk selanjutnya melangkah melakukan perbaikan.

Wallahu’alam bish-shawab

Sumber : Buku “Agar Cinta Bersemi Indah”

Disarikan oleh : Febrianty Djelita P.

4 Komentar

  1. Thanks mbak Febri atas sharingnya… salam

    • Sama sama Tita🙂

  2. makasih artikelnya Feb ..jadi terinpirasi niih ..:)

    • Sip sip , Alhamdulillah🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • DINARRAIHAN

    DinarRaihan melayani Jual Beli Dinar Emas more futher add me in your YM : fbr0976@yahoo.com
  • Arsip

  • Almanak

    Maret 2009
    M S S R K J S
        Apr »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Artikel Terbaru