Qul ya dan Qul hu

Wajah tirusnya tampak bercahaya, meski dipenuhi kerutan sebagai simbol kalau usianya tak lagi muda. Selebihnya, tak banyak yang berubah dari Pak Ahmad. Bicaranya masih perlahan dan tertata, bahkan cenderung menjauhi banyak basa basi. Tatapan matanya yang khas menyejukkan, senantiasa membuat orang lain betah berada didekatnya.

 

Lakon hidupnya masih sama, menjadi imam sholat Maghrib dan Isya sepulang kerja. Sejak dahulu sampai sekarang, surat Al-Qur’an yang dibacanya setelah surat Al-Fatihah, tidak ada yang berubah. Rakaat pertama ia membaca surat Al-Kafirun ( Orang orang Kafir ), kemudian rakaat keduanya membaca surat Al-Ikhlas ( Memurnikan Keesaan Allah ). Selalu, selalu dan selalu begitu, tidak pernah berubah.

 

Banyak jamaahnya yang merasa jemu dan bosan dengan kebiasaan Pak Ahmad. Padahal mereka tahu kalau Pak Ahmad juga banyak hafalan surat surat yang lain, seperti Al A’la ( Yang Paling Tinggi ) atau Al Insyiqaq ( terbelah ), yang lumayan lebih panjang. Terbukti kalau ia mengimami shalat Jum’at, surat surat tersebut kerap dibacanya. Kebiasaan tersebut sudah berlangsung sekian lama, dan tak ada orang yang berani protes. Bisa jadi, karena Pak Ahmad termasuk tokoh masyarakat yang tergolong sepuh.

 

Seorang anak muda yang memendam rasa penasaran, memberanikan diri bertanya saat Pak Ahmad memberikan pengajian malam Jum’at,” Kenapa sih setiap shalat Pak Ahmad selalu membaca qul ya….dan qul hu ( istilah untuk menyebut surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas ), apa nggak ada yang lain ?” Peserta pengajian lain sontak merasa senang karena pertanyaan mereka terwakili.

 

Pak Ahmad yang memang memberikan waktu peserta pengajian untuk bertanya, tampak tenang. Ia tak terlihat kaget atau gusar, meski pertanyaan pemuda tadi tak sesuai dengan tema pengajian yang membahas masalah zakat. Raut wajahnya tetap kalem. Sesungging senyum membuat deretan giginya yang tak lagi utuh terlihat jelas.

 

 “Pertanyaan yang bagus. Sudah sejak lama saya menunggu-nunggunya !” Peserta pengajian tambah penasaran dan tak sabar untuk mendengar alasannya.

 

 “Kalau kita bicara jemu atau bosan, perasaan saya sama seperti saudara-saudara saat menjadi makmum sholat saya. Persoalannya tidak sesederhana itu. Saya bisa saja memvariasikan bacaan surat Al-Qur’an dalam tiap tiap rakaatnya. Tapi saya tidak mau !” Hati saya berat.

 

Peserta pengajian bertambah bingung dengan jawaban-jawaban Pak Ahmad. Kenapa Pak Ahmad begitu berat untuk membaca surat surat Al-Qur’an yang lain? Sepertinya tidak ada persoalan yang perlu dikhawatirkan. Malah dengan memvariasikan bacaan surat Al-Qur’an dalam tiap tiap rakaat shalat, membuat jemaah tidak jemu dan bosan, duga peserta pengajian dalam hati.

 

” Sebelum saya tuntaskan jawaban, saya terlebih dahulu ingin bertanya,” Apakah saudara saudara semua tahu arti atau kandungan dari ayat ayat dalam surat surat Al-Qur’an yang saya baca ?”

 

“Insya Allah, taulah pak !”

 

” Saya kira sebagian besar dari kita tahu, tapi sekedar hanya tahu, tidak lebih ! Disitulah permasalahannya.”

 

Peserta pengajian dibuat semakin bingung dengan jawaban Pak Ahmad.

 

“He..he …he, maaf kalau saya membuat anda semua bingung. Saya merasa begitu berat kalau tidak membaca qul ya…dan qul hu…dalam rakaat shalat. Sebab, banyak dari kita hanya sebatas tahu artinya, tapi sedikit yang mau mengamalkannya.

 

Surat Al-Kafirun tegas tegas menyatakan kalau sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, kita tidak boleh menyembah apa yang menjadi sesembahan orang-orang kafir. Tapi apa yang terjadi? Perilaku keseharian kita tidak jauh berbeda dengan mereka. Kita percaya tiada Tuhan selain Allah, tapi tanpa sadar kita menjadikan penunggu pohon beringin besar, penunggu rumah tua atau penguasa laut selatan sebagai tuhan.

 

“Dalam surat Al-Ikhlas juga diberi penegasan tentang kemurnian ke-esaan Allah SWT, dan menolak segala macam kemusyrikan serta menerangkan bahwa tidak ada sesuatupun yang menyamaiNya. Tapi lagi lagi kita hanya faham artinya. Perilaku yang kita perlihatkan benar benar jauh dari maksud ayat tersebut. Kita begitu gandrung dengan ajimat atau rajah yang kata pembuatnya bisa menghindarkan seseorang dari marabahaya. Padahal hanya Allah SWT, yang merajai dan mempunyai kuasa terhadap alam semesta.

 

Saya merasa, sampai detik ini kita masih saja melakukan ritual ritual yang tak perlu itu. Saya akan tetap membaca qul ya..dan qul hu …dalam shalat, sepanjang kita belum merubah perilaku kita yang salah. Bagi saya, itu menjadi bagian dari cara berdakwah.”

 

Dialog diatas memberikan hikmah bahwa kebiasaan orang tua kita dulu yang membaca qul ya….dan qul hu…saat menjadi imam shalat, sebagaimana yang dilakukan Pak Ahmad, ternyata mempunyai falsafah hidup yang begitu bernilai. Kadang atas nama kebosanan kita menginginkan perubahan padahal, hidup bukanlah sekedar kreatifitas dan variasi semata.

 

Hidup adalah selarasnya pemahaman dan tindakan. ( Ronie, LA )

 

Sumber : Hidayah ( Sebuah Inti Sari Islam )

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • DINARRAIHAN

    DinarRaihan melayani Jual Beli Dinar Emas more futher add me in your YM : fbr0976@yahoo.com
  • Arsip

  • Almanak

    Mei 2009
    M S S R K J S
    « Apr   Jun »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Artikel Terbaru