BUNDA .. !! .. BERHATI-HATILAH DALAM BERKATA …

oleh Suprih Koesoemo pada 07 Juni 2011 jam 23:31

 

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

 

Beberapa hari yang lalu, di tengah kejenuhan saya menghadapi rutinitas harian di kantor, ada seorang sahabat, seorang karyawati sebuah perusahaan IT di Bali mengirimkan sebuah e-mail. Sebuah e-mail yang menurut saya bagus dan ketika membacanya saya sempat meneteskan air mata, …

 

Di e-mail itu sahabat saya ceritakan sebuah cerita sebagai berikut;

 

Cerita ini saya olah dari curhat sahabat saya beberapa hari lalu dalam sebuah forum. Jujur, saya merinding mendengarnya. Benar-benar mengingatkan kembali arti seorang ibu. Ibu, sosok yang disebut tiga kali oleh Rasulullah untuk dihormati sebelum ayah. Maka doa ibu pun begitu dahsyat. Begitu pula amarahnya, sehingga kita pun sangat familier dengan legenda Malin Kundang. Semoga bermanfaat buat para orangtua, wa bil khusus para ibu,dan calon ibu.

 

Sore itu, aku baru pulang dari bekerja. Badan dan pikiran yang lelah karena persoalan menumpuk di tempat kerja, membuat kondisi emosiku agak labil. Sampai di rumah aku berharap tak mendapati hal yang membuat emosiku makin naik. Memiliki tiga anak yang sangat aktif sering kali membuat emosiku naik turun. Keinginanku untuk mendapat ketenangan sejenak di rumah tak terkabul. Sore itu sesampai di rumah, ketiga anakku belum mandi dan rumah berantakan. Meski memiliki khadimat, tapi khadimatku masih terlalu muda, sehingga banyak pekerjaan yang tak tertangani dengan baik olehnya. Sulungku yang berusia enam tahun asyik dengan game. Putri keduaku dan si bungsu asyik bermain, berlari ke sana kemari. Emosiku mulai kembali naik. ”Ummi, Haris dari tadi disuruh mandi nggak mau…” lapor khadimatku.

 

Haris masih asyik bermain game. ”Haris, mandi” kataku berusaha lembut. ”Nggak mau ah!”

”Haris, mandi sama Mbak sekarang…” suaraku mulai keras. Haris tak bergeming. Rasa lelah, pikiran yang masih penuh, ditambah khadimat yang tak becus dan si Sulung yang tak mau menuruti perintahku, makin menambah emosi di dada.

”Haris, mandi sekarang juga!” kali ini aku benar-benar tak bisa mengontrol ucapanku. Kurasa suaraku begitu keras. Haris tampak kaget. Tapi hanya sejenak. Kemudian dari mulut mungilnya kudengar kata… “Entar, Bego…” . Hooh, rasanya emosiku sudah tak di dada lagi, tapi sudah naik hingga ubun-ubun. Dari mana dia mendapat perkataan itu? Bagaimana mungkin Haris-ku bisa berkata seperti itu pada ibunya…?. Kupegang kedua bahunya, masih dengan amarah di dada. ”Bicara apa kamu? Dari mana dapat omongan itu? Dengar ya, UMMI NGGAK IKHLAS kamu bicara seperti itu. Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”

 

Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut. ”Ayo, minta maaf sama Ummi!”. ”Ma-af, Mi…” dengan terbata Haris berucap. ”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!” kataku.  Ucapan ”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku. Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego..” masih menggumpal di dadaku.

 

Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang hafalan. ”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris hafal. Insya Allah, Haris bisa” kataku yakin. Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.

 

”Ayo, baca bismillah dulu, Ris…”. ”Bis…” suara Haris terputus..”Lho kok, bis… bis-millah.. .”.

”Bis…” lagi-lagi suara Haris terputus. ”Haris… jangan bercanda. Ayat Al Quran jangan dipermainkan. Ayo ulang lagi, bismillah… .”. ”Bis…”. ”Haris!” emosiku mulai naik. ”Tapi, Mi… Haris nggak bisa…”. ”Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah. .”

 

 

Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis” Aku benar-benar tak habis pikir.

”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda, mempermainkan ayat Al Quran! Coba, A-L-L-A-H… “”A…. A… Ummi, Haris nggak bisa…””A-L-L-A-H.. . ulang lagi… A-L-L-A-H” BISMILLAH”

”A….. A”.  Aku mulai panik. Kuamati wajah Haris. Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku. ”Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru- llah”. ”Astagfiru.. ” lagi-lagi suara Haris terputus. Aku semakin panik. Ada apa dengan anakku? Padahal dia sudah hafal setengah juz 30. bagaimana mungkin menyebut ”bismillah” , ”astagfirullah” , bahkan ”Allah” saja tak bisa…

 

Aku berusaha menenangkan diri. ”Yuk, bareng Ummi… kita istighfar… ”. ”Astagfirullah. ..”.

Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut. Aku benar-benar tak habis pikir. Beberapa kali kuminta Haris mengulang kata Allah, Allah, Allah… tak juga bisa.

Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku. ”Astagfirullah. …” kuucap berulang kali..Kalimat ”ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang. Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebut kata Allah? Tapi bagaimana mungkin? Haris masih kecil, baru enam tahun.

 

Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh. ”Maafkan Ummi, ya, Ris… maafkan, Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris…” . Kupeluk Haris makin erat. Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas.

”Maafkan Ummi…dan Ummi maafkan Haris..”

 

Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama-sama membaca istighfar kembali. Dan… subhanallah. .. tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca. Subhanallah, Allahu Akbar… betapa kecil kurasa diriku saat itu. Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap ”Laailahailallah” saat sakaratul maut, karena sang Ibu tak ikhlas padanya. Aku bersimpuh..”Ampuni aku, ya Allah.”..”.

 

Ooo0ooO

 

Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya Rosulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keridhaan Allah itu tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan kedua orang tua” (HR Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa suatu perbuatan anak itu tergantung pada keridhaan orang tua (terutama seorang ibu) dimana ucapan dan restu orang tua harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Ucapan atau perkataan seorang ibu dapat juga sebagai doa. Doa merupakan sesuatu yang akan mampu menghindarkan dan mencegah turunnya bencana atau meringankan bencana manakala sudah terjadi. Dari ‘Aisyah berkata, bahwasanya Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bersikap waspada, tidaklah akan bisa menghindarkan seseorang dari qadar, sedangkan doa akan bermanfaat, baik terhadap bencana yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Sungguh, adakalanya bencana yang sudah hendak turun berpapasan dengan doa, lalu keduanya saling berbenturan sampai hari kiamat tiba” (HR Hakim).

 

Mu’awiyah bertanya kepada Ahnaf bin Qais, “Bagaimanakah pendapatmu tentang hal anak itu?”. Ahnaf menjawab, “Hai Amirul mukminin, anak adalah buah hati kita, tiang punggung kita. Kita ini adalah bagaikan bumi yang hina bagi mereka itu, tetapi harus merupakan langit yang dapat memberikan naungan kepada mereka. Kita juga dapat menjadi anak panah yang utama bagi mereka itu di dalam segala urusan yang penting dan gawat. Oleh karena itu, apabila mereka meminta, maka berilah, apabila mereka marah, usahakanlah supaya rela dan hilangkan apa-apa yang menyebabkannya. Dengan demikian mereka akan memberikan kecintaan kepada kita. Mereka akan senang menunjukkan kegiatan untuk kita. Janganlah anda sebagai kunci (penghalang) yang berat dalam perasaan mereka itu, sebab bila demikian, maka mereka akan bosan melihat anda hidup dan menginginkan anda mati dan mereka enggan mendekati anda”. Mu’awiyah lalu berkata, “Benar sekali engkau itu, wahai Ahnaf. Engkau dapat membuat diriku menjadi rela sehingga tidak akan memarahi mereka lagi, sebab suatu kemarahan yang ada dalam hatiku karena perbuatan anakku itu”.

 

Demikianlah sedikit yang dapat disampaikan sebagai tambahan note saudara Vicky Robi II, semoga bermanfaat…amiin. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh  (MM 07062011)

1 Komentar

  1. memang terkadang kenakalan anak2 kita membuat kemarahan kita sulit dibendung, banyaklah beristigfar saat kemarahan kita meluap pada mereka.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • DINARRAIHAN

    DinarRaihan melayani Jual Beli Dinar Emas more futher add me in your YM : fbr0976@yahoo.com
  • Arsip

  • Almanak

    Januari 2012
    M S S R K J S
    « Des   Feb »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Artikel Terbaru